Kamis, 07 Juni 2012

Motorik Halus Usia 5-6 tahun


BAB I
PENDAHULUAN

A.     Latar Belakang
Perkembangan pada anak dimulai sejak dalam kandungan, dari mulai dibuahinya sel telur oleh sperma kemudian dari sel yang sama bentuk dan fungsinya berkembang menjadi sel yang bersifat khusus seperti sel syaraf, sel otot, sel darah, sel tulang. Sel-sel tersebut membentuk jaringan seperti jaringan saraf, jaringan otot, jaringan darah, jaringan epitel, dan jaringan tulang. Kemudian jaringan-jaringan tersebut membentuk organ seperti otak, jantung, mata, telinga dan kaki. Kumpulan dari organ-organ tersebut akan membentuk sistem organ akhirnya menjadi organisme yang utuh di dalam kandungan seorang ibu yang siap dilahirkan ke dunia.
Pada usia 0-8 tahun merupakan usia keemasan bagi anak dengan perkembangan mental maupun fisik yang berlangsung secara pesat khususnya pada anak usia 5-6 tahun kami mengobservasi yang sudah menginjak pendidikan formal awal yaitu di TK. Pada anak usia 5-6 tahun memiliki perkembangan fisik-motorik yang baik (perkembangan badan, otot kasar dan otot halus).
Selanjutnya pada perkembangan kognitif pada anak usia 5-6 tahun sudah menunjukkan proses berpikir yang lebih jelas (preoperational). Aspek-aspek perkembangan yang selanjutnya adalah perkembangan emosional anak (emosi positif dan emosi negatif), perkembangan moral yang ditandai kemampuan anak untuk memahami aturan, norma maupun etika dengan disertai konsekuensi fisik ataupun hidonistik (kepuasan), perkembangan sosial dan perkembangan bahasa.
Dengan demikian, untuk dapat mengetahui karakteristik atau aspek-aspek  perkembangan dari anak usia 5-6 tahun, kami mencoba membuat makalah mengenai aspek-aspek perkembangan anak uasia 5-6 tahun yang meliputi perkembangan fisik-motorik, perkembangan kognitif, perkembangan sosial, perkembangan bahasa, perkembangan emosional, dan perkembangan moral. Di dalam perkembangan anak usia 5-6 tahun sebaiknya dimanfaatkan olehorang tua maupun orang-orang sekitar untuk memberikan bimbingan dan pengajaran yang dapat menjadikan mereka anak yang baik.

B.    Rumusan Masalah
Dari latar belakang diatas, maka dapat dirumuskan sebagai berikut:
1.    Apakah yang dimaksud motorik halus ?
2.    Bagaimanakah perkembangan motorik halus pada anak usia 5-6 tahun ?
3.    Bagaimanakah perkembangan kognitif pada anak usia 5-6 tahun ?
4.    Bagaimanakah perkembangan sosial pada anak usia 5-6 tahun?
5.    Bagaimanakah perkembangan emosional pada anak usia 5-6 tahun?
6.    Bagaimanakah perkembangan bahasa pada anak usia 5-6 tahun ?

C.    Tujuan Penulisan
Berdasarkan rumusan masalah yang telah dituliskan di atas, maka tujuan dari penulisan makalah ini antara lain :
a.    Tujuan Umum
1.    Untuk mengetahui perkembangan motorik halus pada anak usia 5-6 tahun.
2.    Untuk mengetahui perkembangan kognitif pada anak usia 5-6 tahun.
3.    Untuk mengetahui perkembangan social pada anak usia 5-6 tahun.
4.    Untuk mengetahui perkembangna emosional pada anak usia 5-6 tahun.
5.    Untuk mengetahui perkembangan bahasa pada anak usia 5-6 tahun.
b.    Tujuan Khusus
Tujuan khusus penulisan makalah ini adalah untuk memenuhi tugas mata kuliah Keterampilan Berkarya pada Semester Genap.













BAB II
PEMBAHASAN

A.     Pengertian Motorik Halus
Kemampuan motorik halus adalah kemampuan yang berhubungan dengan keterampilan fisik yang melibatkan otot kecil dan koordinasi mata-tangan. Saraf motorik halus ini dapat dilatih dan dikembangkan melalui kegiatan dan rangsangan yang kontinu secara rutin. Seperti, bermain puzzle, menyusun balok, memasukan benda ke dalam lubang sesuai bentuknya, membuat garis, melipat kertas dan sebagainya.
Kecerdasan motorik halus anak berbeda-beda. Dalam hal kekuatan maupun ketepatannya. perbedaan ini juga dipengaruhi oleh pembawaan anak dan stimulai yang didapatkannya. Lingkungan (orang tua) mempunyai pengaruh yang lebih besar dalam kecerdasan motorik halus anak. Lingkungan dapat meningkatkan ataupun menurunkan taraf kecerdasan anak, terutama pada masa-masa pertama kehidupannya.
Setiap anak mampu mencapai tahap perkembangan motorik halus yang optimal asal mendapatkan stimulasi tepat. Di setiap fase, anak membutuhkan rangsangan untuk mengembangkan kemampuan mental dan motorik halusnya. Semakin banyak yang dilihat dan didengar anak, semakin banyak yang ingin diketahuinya. Jika kurang mendapatkan rangsangan anak akan bosan. Tetapi bukan berarti anda boleh memaksa si kecil. Tekanan, persaingan, penghargaan, hukuman, atau rasa takut dapat mengganggu usaha dilakukan si kecil.
Perlu diketahui bahwa kemampuan motorik halus sangat penting karena berpengaruh pada segi pembelajaran lainnya. Keadaan ini sesuai dengan penelitian Mayke (2007) bahwa motorik halus penting karena ini nantinya akan dibutuhkan anak dari segi akademis. Kegiatan akademis tersebut seperti menulis, menggunting, menjiplak, mewarnai, melipat, menarik garis dan menggambar. Hal ini sejalan dengan pendapat Hurlock (1978) bahwa penguasaan motorik halus penting bagi anak, karena seiring makin banyak keterampilan motorik yang dimiliki semakin baik pula penyesuaian sosial yang dapat dilakukan anak serta semakin baik prestasi di sekolah.
B.    Perkembangan Motorik
Perkembangan fisik sangat berkaitan erat dengan perkembangan motorik anak. Motorik merupakan perkembangan pengendalian gerakan tubuh melalui kegiatan yang terkoordinir antara susunan saraf, otot, otak, dan spinal cord.
Motorik halus adalah gerakan yang menggunakan otot-otot halus atau sebagian anggota tubuh tertentu, yang dipengaruhi oleh kesempatan untuk belajar dan berlatih. Misalnya, kemampuan memindahkan benda dari tangan, mencoret-coret, menyusun balok, menggunting, menulis dan sebagainya.
Perkembangan motorik beriringan dengan proses pertumbuhan secara genetis atau kematangan fisik anak. Teori yang menjelaskan secara detail tentang sistematika motorik anak adalah Dynamic System Theory yang dikembangkan Thelen & whiteneyerr. Teori tersebut mengungkapkan bahwa untuk membangun kemampuan motorik anak harus mempersepsikan sesuatu di lingkungannya yang memotivasi mereka untuk melakukan sesuatu dan menggunakan persepsi mereka tersebut untuk bergerak. Kemampuan motorik merepresentasikan keinginan anak. Misalnnya ketika anak melihat mainan dengan beraneka ragam, anak mempersepsikan dalam otaknnya bahwa dia ingin memainkannya. Persepsi tersebut memotivasi anak untuk melakukan sesuatu, yaitu bergerak untuk mengambilnya. Akibat gerakan tersebut, anak berhasil mendapatkan apa yang di tujunya yaitu mengambil mainan yang menarik baginya.
Teori tersebut pun menjelaskan bahwa ketika bayi di motivasi untuk melakukan sesuatu, mereka dapat menciptakan kemampuan motorik yang baru, kemampuan baru tersebut merupakan hasil dari banyak faktor, yaitu perkembangan system syaraf, kemampuan fisik yang memungkinkannya untuk bergerak, keinginan anak yang memotivasinya untuk bergerak, dan lingkungan yang mendukung pemerolehan kemampuan motorik. Misalnya, anak akan mulai berjalan jika system syarafnya sudah matang, proposi kaki cukup kuat menopang tubuhnya dan anak sendiri ingin berjalan untuk mengambil mainannya.
C.    Perkembangan Motorik Halus Usia 5-6 Tahun
Perkembangan motorik halus anak taman kanak-kanak ditekankan pada koordinasi gerakan motorik halus dalam hal ini berkaitan dengan kegiatan meletakkan atau memegang suatu objek dengan menggunakan jari tangan. Pada usia 4 tahun koordinasi gerakan motorik halus anak sangat berkembang, bahkan hampir sempurna. Walaupun demikian anak usia ini masih mengalami kesulitan dalam menyusun balok-balok menjadi suatu bangunan. Hal ini disebabkan oleh keinginan anak untuk meletakkan balok secara sempurna sehingga kadang-kadang meruntuhkan bangunan itu sendiri. Pada usia 5 atau 6 tahun koordinasi gerakan motorik halus berkembang pesat. Pada masa ini anak telah mampu mengkoordinasikan gerakan visual motorik, seperti mengkoordinasikan gerakan mata dengan tangan, lengan, dan tubuh secara bersamaan,antara lain dapat dilihat pada waktu anak menulis atau menggambar.
Keterampilan Motorik Halus; meliputi otot-otot kecil yang ada diseluruh tubuh, seperti menyentuh dan memegang. Lerner & Hultsch (1983).
Menurut dr. Radix Hadriyanto, Sp.A beberapa ciri khas tumbuh kembang anak yang normal secara umum menurut klasifikasi umurnya dapat dilihat pada table berikut :
Stimulasi gerak halus Usia 5-6 tahun yang dapat diberikan sesuai dengan jenjang usia antara lain:Pada usia 5-6 tahun, hampir seluruh gerak kinestetiknya dapat dilakukan dengan efisien dan efektif. Gerakannya pun sudah terkoordinasi dengan baik. Namun, seperti diungkapkan Bambang, anak kelompok usia ini lebih menyukai permainan yang tidak banyak melibatkan motorik kasar. Mereka lebih menyukai permainan yang menggunakan kemampuan berpikir seperti bermain puzzle, balok, bongkar pasang mobil, serta mulai tertarik pada games di komputer maupun play station.
Anak usia 5-6 tahun adalah anak yang periang dan imajinatif. Mereka tiada hentinya bergerak dan berbuat sesuatu. Dunia sekitar mereka seakan mengundang mereka, menunggu untuk ditemukan, dikuasai dan penuh tantangan. Untuk itulah perlu disediakan suatu lingkungan yang baik, yang kaya dengan stimulus untuk membantu mereka mengembangkan seluruh aspek dirinya.
Anak usia 5-6 tahun memiliki perkembangan motorik yang lebih meningkat . tangan , lengan dan tubuh, semuanya bergerak bersama dibawah koordinasi mata ( santrock:1999)
. Aspek pengembangan fisik untuk motorik halus meliputi:
§   Mencontoh bentuk +, X, Lingkaran, bujur sangkar, segi tiga.
§   Menjiplak angka, bentuk-bentuk lain.
§   Menjahit sederhana dengan menggunakan tali sepatu, benang woll dll.
§   Memasukkan surat ke dalam amplop.
§   Membentuk dengan plastisin.
§   Memasukkan benang ke dalam jarum
§   Menggunting mengikuti bentuk
§   Menganyam.
§   Membentuk berbagai objek dengan tanah liat
§   Menggambar sesuai gagasan-nya.
§   Meniru bentuk.
§   Melakukan eksplorasi dengan berbagai media dan kegiatan.
§   Menggunakan alat tulis dengan benar.
§   Menggunting sesuai dengan pola.
§   Menempel gambar dengan tepat.
§   Mengekspresikan diri melalui gerakan menggambar secara detail

D.    Program aktivitas Motorik Halus Usia 5-6 Tahun
Adapun program aktivitas motorik halus yang penyusun lakukan yaitu membuat telepon mainan. Adapun Bahan-Bahan atau alat pembuatan telepon mainan yaitu:
1.    Karton tebal
2.    Benang
3.    Lem
4.    Gunting
5.    Lidi
6.    Pinsil warna









Cara membuat telepon mainan adalah sebagai berikut:
1.    Buatlah 2 buah tabung dari karton. Lubangi masing-masing bagian bawah tabung yang tertutup. Biarkan bagian atas tetap terbuka.
2.    Dengan menggunakan seutas benng panjang, masukan ujung benang ke again bawah kedua tabung. Buatlah simpulganda di bagian dalam tabung untuk mengunci ujung benng, akan lebih kokoh bila dikaitkan ke lidi
3.    Bila perlu warnailah dan hiaslah tabung menggunakan warna-warna cerah dengan gambar bertema telepon




4.    Lalu siap digunakan

Dari kegiatan diatas dapat disimpulkan yaitu pada usia 5-6 tahun motorik halusnya sedang berkembang sudah mulai bisa memegang dan menggunting, mewarnai dan merekatkan lem sesuai pola dan dapat membentuk pola sehingga dengan kegiatan seperti ini anak sangat berkembang motorik halusnya. Dan dapat digunakan untuk berkomunikasi dengan teman sekelasnya.

















BAB III
PENUTUP

Usia paling kritis anak adalah sampai dengan usia anak lima tahun. Usia emas atau Golden Age berada pada masa paling kritis yaitu usia 0 sampai 2 tahun, karena 80% pertumbuhan otak terjadi pada masa usia emas tersebut. Pada tahap ini anak harus diberikan intervensi-intervensi yang tepat agar otak anak bisa berkembang dengan optimal. Intervensi yang diberikan bisa dalam bentuk stimulasi-stimulasi. Stimulasi yang diberikan harus merangsang 4 aspek kemampuan dasar, yaitu: Kemampuan Gerak Kasar (GK) ; Kemampuan Gerak Halus (GH) ; Kemampuan berbicara dan bahasa ; dan Kemampuan bersosialisasi dan kemandirian. Dalam melakukan stimulasi sebaiknya harus memperhatikan prinsip stimulasi perkembangan.
Orang tua bertanggung jawab atas perkembangan anaknya pada masa yang akan datang. Oleh karena itu, orang tua harus berhati-hati dalam mendidik anaknya serta dalam melakukan intervensi harus benar-benar tepat. Jika stimulasi yang diberikan tidak tepat maka akan sangat sulit atau bahkan tidak bisa untuk memperbaiki pengaruh stimulasi tersebut pada usia selanjutnya. Untuk itu manfaatkan masa usia kritis anak atau golden age, agar anak bisa berkembang seoptimal mungkin kearah yang positif.




DAFTAR PUSTAKA

http://www.episentrum.com/artikel-psikologi/perkembangan-motorik-anak-usia-dini/

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar